Serbuk Kayu Bisa Jadi Bahan Baku Bioenergi

Serbuk Kayu Bisa Jadi Bahan Baku Bioenergi

Serbuk kayu sisa gergajian mampu dimanfaatkan sebagai bahan bioenergi sesudah diolah menjadi pelet kayu. Dosen Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan (KK-TK) Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) melatih penduduk di lebih kurang hutan pendidikan Gunung Geulis, Sumedang untuk mengembangkan teknologi konversi biomassa menjadi bioenergi.

Kegiatan berikut merupakan bagian dari kegiatan pengabdian terhadap penduduk (PPM) yang dijalankan selama dua hari di Kampus ITB Jatinangor, Sumedang, sebagian hari lalu. Pelatihan diikuti oleh 25 orang perwakilan penduduk dari delapan desa di lebih kurang hutan pendidikan Gunung Geulis.

Kedelapan desa berikut meliputi tiga desa di Kecamatan Jatinangor (Desa Jatiroke, Jatimukti dan Cisempur), empat desa di Kecamatan Cimanggung (Desa Mangunarga, Cikahuripan, Cinanjung dan Sawahdadap) dan satu desa di Kecamatan Tanjungsari (Desa Raharja) wood pellet manufacturers .

Ketua Tim PPM Sutrisno menjelaskan, pelet kayu (wood pellet) merupakan kekuatan biomassa yang berasal dari sistem pemadatan kayu dan punya potensi yang baik sebagai substitusi bahan bakar fosil layaknya minyak bumi, batu bara dan gas alam. Bahan baku untuk pembuatan pelet kayu biasanya berasal dari limbah industri pengolahan kayu yang mampu berupa serbuk gergajian kayu (sawntimber dust), serpihan kayu (wood chips) atau serutan kayu (wood shavings).

“Sumber bahan baku berikut cukup melimpah di Indonesia, gara-gara limbah dari industri pengolahan kayu jumlahnya cukup besar yakni lebih kurang 50,8 persen dari bahan baku,” kata Sutrisno melalui siaran pers yang diterima, Rabu, 28 November 2018.

Pelet kayu juga mampu dibuat dari limbah pemanenan kayu layaknya bagian batang, ranting, dan kulit kayu. Selain itu bahan baku pelet kayu juga mampu berasal dari limbah pertanian dan perkebunan layaknya bonggol jagung, sabut kelapa, jerami, cangkang buah kopi dan lain-lain.

“Pelet kayu merupakan keliru satu perumpamaan penggunaan sumberdaya hayati sebagai bioenergi, lebih tepatnya sebagai bahan bakar. Energi yang dihasilkan dari pelet kayu mampu digunakan untuk mencukupi bermacam kebutuhan tempat tinggal tangga maupun industri tempat tinggal tangga, terasa dari memasak sampai kebutuhan untuk pembangkit tenaga listrik,” tuturnya.

Sutrisno mengatakan, kajian yang dijalankan di awalnya menunjukkan, sebagian penduduk di delapan desa di lebih kurang hutan pendidikan Gunung Geulis ITB tetap gunakan kayu bakar untuk keperluan memasak sehari-hari. Di sana juga punya potensi biomassa terlebih limbah kayu dalam wujud serbuk sisa gergajian kayu, cabang dan ranting ,serta serasah yang jumlahnya sangat besar.

“Besarnya potensi sumberdaya hayati yang kita miliki, menjadi kesempatan yang sangat besar bagi pengembangan kekuatan alternatif pelet kayu sebagai bioenergi. Pengembangan bioenergi dari pelet kayu mampu di awali dari merubah tingkah laku pengguna kekuatan di masyarakat, terlebih di pedesaan untuk menuju kepada terwujudnya desa independen energi,” tutur Sutrisno.

Ia mengatakan, rancangan pengembangan desa independen kekuatan dijalankan bersama dengan memperhitungkan bermacam aspek antara lain potensi desa, kesejahteraan penduduk dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, perhatian terhadap potensi lingkungan dan karakteristiknya sangat penting.

Laboratorium alam
Dekan SITH ITB I Nyoman Pugeg Aryantha mengatakan, kerja mirip yang baik antara Dosen ITB bersama dengan penduduk di lebih kurang hutan pendidikan Gunung Geulis ITB, terlebih dalam mengelola hutan pendidikan Gunung Geulis sebagai laboratorium alam sangat penting.

“Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, kebijakan pengelolaan hutan pendidikan dikemas dalam wujud ide-ide kreatif dan inovatif melalui sistem pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada penduduk serta kerja mirip pengeloaan bersama dengan pihak lain sejauh tidak merubah fungsi utama sebagai kawasan hutan lindung,” tuturnya.

Leave a Comment